Posted in Bahasa Indonesia, English, Quote

There is No Substitute for Books

no sustitute for books

“Dalam kehidupan seorang anak, tidak ada satupun yang dapat menggantikan makna sebuah buku”

(Mary Ellen Chase)

Advertisements
Posted in Bahasa Indonesia, English, Quote

A Smile for The Earth and Her Children

sky

“Langit pun tersenyum kepada bumi dan anak-anaknya”

(Henry Morton Stanley)

Happy Sunday everyone!

Just a gentle reminder that our children deserve our best smiles – despite our circumstances, or their condition.

May God grants you the blessing of happiness and a grateful heart.

Posted in Article, Artikel, Bahasa Indonesia, English

The Habit of Reading/Kebiasaan Membaca

www.childrencounseling.net

How much do you read to your children or students?

When I was a young child, my mother used to tell me fairy tales or traditional folklore. She never really brought books with her, but she was a good storyteller. Up until today, as a grandmother, she still uses her talent of storytelling – and her grandchildren absorb a lot of her stories – as much as I did when I was young.

Storytelling is a very powerful tool – in teaching on moral and values to children, to persuade others, in business lines or as therapeutic tools. But the quality of telling your stories depend on how much you read! Indonesia has a very low rank of reading habits. Young people (or almost all ages) spend their leisure time with their gadgets, hang out with friends, or watching TV. Only a small percentage spend their time to read – or making the effort to read. This condition is shaped through generations – as what Desi Anwar wrote in her opinion regarding reading habit in Indonesia. One good point that she mentioned was the fact that Indonesian children are surrounded by those people who have no or small interest in reading – parents who never keep books at home, never read stories before bed time, never bother to equip their children with knowledge.

I remember one story from a private teacher from a rich family. She said that she has difficulties to teach general knowledge for her student, because despite his enormous big house, his mother never bought him one single piece of encyclopedia or any kind of reading books. So I asked her further, if she ever talk to his parents. She said yes, and the mother replied that she doesn’t see the importance of collecting books for herself nor her children.

If we as parents, or teachers, or as adults around children, do not engage in such a good habit of reading, how can we ask our children to learn more from their books? Buying them books – doesn’t mean that we sow the seed of reading, because we need to show to our children that we are engaging in that good habit. By seeing us reading books, or listening to us when we read for them, children will not only ‘copy’, but they will be ‘held hostage’ by a good habit.

www.childrencounseling.net

There is no easier way to make your children a good reader, then to let them sit on your lap. (CE)


Seberapa sering anda membacakan cerita untuk anak-anak atau siswa anda?

Ketika saya masih kecil, Ibu saya selalu bercerita tentang dongeng atau kisah tradisional sebelum waktunya tidur. Ibu tidak pernah membawa buku cerita, namun ia adalah seorang pendongeng yang ulung. Hingga hari ini, sebagai seorang nenek, Ibu saya masih memanfaatkan talentanya sebagai seorang pendongeng – dan cucu-cucunya selalu terlarut dalam kisah yang disampaikan, sama seperti ketika saya masih kecil. 

Cerita merupakan sebuah alat yang sangat luar biasa – dalam mentransfer pemahaman moral dan berbagai nilai positif bagi anak-anak, untuk meyakinkan orang lain, dalam bisnis ataupun sebagai alat terapi. Namun, kualitas kisah yang anda sampaikan bergantung pada seberapa banyak anda membaca! Indonesia memiliki peringkat yang rendah dalam kebiasaan membaca. Generasi muda (atau hampir seluruh generasi) menghabiskan waktu luang mereka dengan gadgets, bercengkerama dengan teman sebaya, atau menonton TV. Hanya sedikit sekali masyarakat Indonesia yang menghabiskan waktunya dengan membaca – atau berupaya untuk membaca. Kondisi ini terbentuk dari generasi ke generasi – seperti apa yang dituliskan oleh Desi Anwar dalam opininya, terkait kebiasaan membaca di Indonesia. Ia menekankan pada sebuah kenyataan yang penting, dimana anak-anak Indonesia dikelilingi oleh orang dewasa yang tidak memiliki atau hanya memiliki ketertarikan yang rendah untuk membaca – orangtua yang tidak pernah memiliki buku di rumah, tidak pernah membacakan cerita pengantar tidur, tidak pernah memikirkan pentingnya melengkapi anak-anak mereka dengan pengetahuan. 

Saya teringat akan sebuah kisah dari seorang guru les yang mengajar di sebuah keluarga yang kaya. Ia mengatakan bahwa sulit baginya untuk mengajarkan berbagai pengetahuan umum pada siswanya, karena di tengah rumah yang begitu megah, sang Ibu tidak pernah membeli sebuah ensiklopedi atau buku bacaan lain bagi anaknya. Kemudian saya bertanya, apakah sebagai guru, ia pernah menyampaikan hal ini kepada sang Ibu. Ternyata ia pernah menanyakan, dan sang Ibu menyampaikan bahwa ia tidak melihat pentingnya mengkoleksi buku, baik bagi dirinya ataupun anak-anaknya. 

Apabila kita sebagai orangtua, guru atau orang dewasa yang hidup dengan anak-anak tidak memiliki kebiasaan membaca, bagaimana kita dapat meminta anak-anak untuk belajar dari buku? Membelikan anak-anak buku tidak berarti bahwa kita telah menanam benih membaca, karena kita perlu menunjukkan kepada mereka bahwa kitapun melakukan kebiasaan baik tersebut. Dengan melihat orangtuanya membaca buku, atau mendengarkan kisah yang dibacakan oleh orangtua, anak-anak tidak hanya akan meniru, namun mereka juga akan ‘tertawan’ dengan kebiasaan positif tersebut.

Tidak ada cara yang lebih mudah untuk menjadikan anak anda seorang pembaca buku yang hebat, selain dengan membiarkan mereka duduk di pangkuan anda, sembari anda membacakan kisah untuk mereka. (CE)

Posted in Artikel, Bahasa Indonesia

Memperingati Hari Anak Nasional/ Indonesian National Children’s Day

Hanya beberapa hari sebelum peringatan Hari Anak Nasional, masyarakat Indonesia dikejutkan oleh hilangnya seorang anak perempuan berusia 6 tahun yang diculik di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta. Meskipun beberapa hari kemudian anak S berhasil kembali ke pelukan orangtuanya, namun kasus ini telah ditangani oleh pihak yang berwajib. Tidak hanya kasus penculikan anak S, kasus terbunuhnya Angelina juga masih belum terselesaikan secara hukum. Lalu muncullah sebuah pertanyaan besar di dalam benak kita, “Apakah negara kita bukan tempat yang aman bagi anak-anak?”

Seorang rekan psikolog yang menghabiskan 20 tahun hidupnya di Amerika Serikat mengatakan bahwa kasus kekerasan pada anak, penculikan dan pembunuhan merupakan bagian yang tidak terlepas dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Hampir setiap hari selalu ada berita serupa, baik di TV ataupun di media cetak. Akibatnya, masyarakat menjadi terlalu peka terhadap apapun yang terkait dengan perlakuan terhadap anak. Setiap anggota masyarakat turut ambil bagian dalam kesadaran ini dengan melaporkan kepada pihak yang berwajib apabila mereka ‘mencurigai’ adanya kekerasan yang dilakukan orangtua terhadap anak. Kondisi ini akhirnya menjadi sebuah tekanan bagi orangtua, dimana perilaku pendisiplinan yang mereka lakukan dapat diartikan sebagai sebuah bentuk kekerasan oleh orang lain.

Children Counseling 2015

Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional tahun ini, tidak ada harapan yang lebih besar daripada menyaksikan anak-anak Indonesia bertumbuh dan berkembang secara optimal – sesuai dengan kapasitas masing-masing anak. Terbersit pula harapan akan kesehatan fisik, psikologis dan emosional yang lebih baik bagi anak-anak penerus generasi bangsa kita. Demikian pula dengan kualitas pendidikan yang semakin memperhatikan kekayaan masing-masing anak didik dan tidak hanya menyeragamkan pola berpikir seperti ‘yang seharusnya’.

Dan satu hal penting yang menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat, yaitu menyediakan lingkungan yang aman dan mendukung pertumbuhan setiap anak Indonesia. Lingkungan yang aman dari kekerasan, tindakan pelecehan, penerlantaran dan berbagai perlakuan lain yang membunuh karakter anak Indonesia. Penting bagi orangtua untuk memiliki kesadaran akan pentingnya melakukan pencegahan dini terhadap berbagai hal yang berpotensi mendatangkan bahaya bagi anak-anak mereka.

Berikut adalah beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orangtua untuk memberikan perlindungan bagi anak-anak:

  1. Memperkenalkan Aturan Pakaian Dalam untuk mencegah terjadinya pelecehan seksual pada anak-anak.
  2. Mengajarkan kepada anak untuk menolak ajakan ataupun pemberian dari orang yang tidak dikenal, apapun bentuknya.
  3. Memberikan panduan kepada anak sebelum mengajaknya pergi ke tempat keramaian umum, seperti: pusat perbelanjaan, pasar malam, dsb (baca juga tips berikut ini).
  4. Mengingatkan anak untuk selalu dekat dengan orangtua atau pengasuh selama berada di tengah keramaian.

Selamat memperingati Hari Anak Nasional 23 Juli 2015! Untuk masa depan generasi bangsa yang lebih baik. (CE)


Only a few days before we celebrate National Children’s Day, Indonesian community was surprised by the missing of a six-year-old girl who was kidnapped at a shopping mall in Jakarta. Even though a few days later, S was ‘returned’ to her parents’ house by the man who kidnapped her, the case is still under investigation from local police department. Not just the case of S, the investigation on the case of Angeline (8 years old) is still on going. Then there is a big question in our mind, “Is our country not a safe place for children?”

A fellow psychologist who had spent 20 years of her life in the US shared with me that child abuse cases, kidnapping and murder are part of daily life of the US community. Almost every day they witness similar news, on TV or newspaper, and therefore, this condition makes the community become too aware with any children issues. Everyone takes part in this ‘awareness’ by reporting to police department whenever they ‘suspect’ parents commit abuse toward their children. This condition is now becoming very overwhelming for parents, because their effort to discipline their children may be seen as an abusive act toward their children – in the eyes of the community.

In order to celebrate National Children’s Day this year, there is no bigger hope than to witness Indonesian children to grow and develop optimally – according to their capacities. There is also a hope for a better quality of physical, psychological and emotional health among those children, the next generation of this country. As well as the educational quality, that focus on the talents of every student – and not merely drive them toward uniformity ‘as it should be’.

And one most important thing of the community is to provide a safe environment that can support each child’s development. Safe environment from abuse, neglect and other forms of negative treatments that could kill the character of Indonesian children. It is urgent for parents to have the awareness on the importance of early intervention against any potential dangers toward their children.

Followng are some tips that can be done by parents to provide protection for their children:

  1. Introducing The Underwear Rules to prevent sexual abuse toward children.
  2. Teach children to say NO when strangers invite them to come along, as well as not to take any gifts, in any forms.
  3. Guide children on what-to-do before take them our to public area, such as: mall, night market, etc.
  4. Remind children to always stay close to their parents or caregivers while in the middle of crowd.

Happy National Children’s Day – July 23, 2015! For a better generation of this counrty. (CE)

Posted in Artikel, Bahasa Indonesia

Review Buku: 15 Anak Genius Peraup Dolar/ Book Review: 15 Genius Children Who Make Dollars

Apa yang akan dilakukan oleh orangtua ketika anak-anak yang masih muda belia menyampaikan ide bisnis mereka? Ada orangtua yang mungkin awalnya terkejut, namun akhirnya mendukung ide anaknya. Ada pula orangtua yang menunda perwujudan ide bisnis tersebut hingga anaknya selesai menempuh pendidikan formal. Namun, ada pula orangtua yang dengan sepihak mematahkan ide bisnis tersebut karena menganggap anak-anak mereka masih terlalu muda dan belum serius dengan apa yang mereka inginkan.

Children Counseling 2015

Seandainya orangtua dari kelima belas anak genius dalam buku yang ditulis oleh Merry Magdalena ini berpikiran kolot dan tidak mengenali keunikan anak-anak mereka, maka bisa jadi kita tidak mendengar kisah keberhasilan mereka saat ini. Benang merah dari kelima belas kisah tersebut adalah besarnya dukungan keluarga dan pentingnya kesediaan orangtua untuk mengenali keunikan masing-masing anak, serta menemukan bagaimana cara yang terbaik untuk mendukung perkembangan keunikan tersebut.

Dikisahkan bahwa beberapa anak genius berhasil mengembangkan usaha yang berawal dari resep rahasia keluarga dalam membuat selai alami atau produk kecantikan. Ada pula yang berhasil mengembangkan usaha mereka berkat kesediaan orangtua dan saudara mereka untuk menyumbangkan waktu, talenta dan pengetahuan yang dimiliki. Alih-alih menggurui anak-anak mereka, orangtua kelima belas anak genius tersebut memberikan kesempatan yang luas bagi pengembangan talenta anak-anaknya. Hasilnya, ketika sebagian besar orangtua lain ketakutan menghadapi tingginya angka drop out sekolah, orangtua dari kelima belas anak genius ini tidak perlu memaksakan pendidikan pada anak-anaknya, karena mereka ingin selalu mengembangkan diri – termasuk dengan menyelesaikan pendidikan formal mereka.

Children Counseling 2015

Anda bisa membaca kisah-kisah mereka secara lengkap dalam bukunya. Namun, perhatian saya lebih berfokus pada pentingnya keyakinan orangtua akan kemampuan anaknya. Keyakinan ini akan menjadi bahan bakar yang tidak akan padam dalam diri anak, terutama ketika upaya mereka menemui kegagalan. Keyakinan ini juga bernilai lebih besar dari uang, yang selama ini dipandang sebagai modal yang paling utama dalam kehidupan. Sesuai dengan karakteristik anak-anak dan remaja, dikisahkan bahwa para miliarder muda tersebut tidak mudah merasa puas dan memiliki tingkat kebosanan yang cukup tinggi. Andaikan karakteristik ini dipandang sebagai bentuk ketidakseriusan atau sesuatu yang harus ditangani oleh orangtua, maka anak-anak genius tersebut tidak akan memiliki lebih dari satu perusahaan yang bernilai ribuan atau jutaan dolar. Sudut pandang orangtua yang positif dalam memaknai ‘kebosanan’ yang dirasakan anak-anak mereka, kemudian membuka pintu kreativitas lain yang membuahkan hasil yang positif pula.

Berikut adalah beberapa bukti yang menunjukkan betapa kuatnya nilai-nilai positif yang ditanamkan oleh orangtua pada anak-anak mereka:

“Jangan biarkan orang lain menjauhkan anda dari rencana orisinal anda” (Juliette Brindak)

“Jika anda punya sebuah ide bagus, segeralah mewujudkannya sebab ada banyak investor di seluruh dunia yang mencari perusahaan untuk menjadi investasi mereka” (Nick D’Aloisio)

“… orang yang berbisnis harus melakukan lebih dari sekadar mencari uang, yaitu berbuat kebaikan” (Fraser Doherty)

“Saya selalu berusaha melihat kembali ke belakang agar dapat bersikap rendah hati dan merasa diberkati” (Sean Belnick)

‘Teruslah beranggapan tidak ada orang yang peduli denganmu. Dengan begitu anda akan berjuang melakukan segalanya sebaik mungkin, termasuk berperilaku” (Brian Wong)

Teruslah melakukan yang terbaik, Orangtua! Yakinlah pada talenta yang telah diberikan Tuhan pada anak-anak anda, maka anda akan dapat membantu mereka mengembangkan talenta tersebut. (CE)


What would parents do when their young children share about their business idea? Some parents might be surprised, but support the idea. Some parents will delay the decision until their children finish their formal education. But, there are some parents who stop the idea altogether because they think their children still too young and not serious enough to get what they want.

If the parents of those 15 genius children – in a book written by Merry Magdalena – think traditionally and not willing to understand the uniqueness of their children, then we might not heard any successful stories about their achievement today. The red line from those 15 stories is the importance of family support and willingness from each parent to understand the uniqueness of their children, and find the best way to support the development of their children.

From the book, we know that some genius children develop business from family secret recipe in making special jams or beauty products. Some develop their business because their parents and family members willing to share their time, talents and knowledge. Instead of telling their children on what-to-do, those parents give their children as much opportunities as they can to develop their talents. The result, when most parents are afraid in facing the high numbers of school drop out, these 15 parents do not have to force education to their children, because they want to develop themselves continuously – including by finishing their formal education.

You can read their stories in the book (written in Bahasa Indonesia). But my focus is on the importance of parents’ trust upon their children’ capacities. This trust will serve as the fuel that will not dim inside their children, especially in the days of adversities. This trust worth much more that money, which has been seen as the most important capital of life. When these 15 children did not easily satisfy with their achievement and tend to have high level of boredom, their parents did not see it as something that they need to interfere. If they did, then today those children will not have more than one company that worth thousand or million dollar. Positive point-of-view from their parents in understanding ‘their boredom’ then open the doors of creativity that result positively in the end.

Following are some examples on the importance of planting positive values to young children:

“Never let anyone stray you away from your original plan” (Juliette Brindak)

“If you have a good idea, do it right away, because there are a lot of investors in the world who are looking for company as their invesment” (Nick D’Aloisio)

“… people who do business must do more than just looking for money, they need to do good deeds” (Fraser Doherty)

“I always look back, so I would be able to be humble and feel blessed” (Sean Belnick)

“Keep on thinking that no one cares about you. By that, you will fight to do everything as good as you can, including in behaving yourself (Brian Wong)

Keep on doing your best, parents! Believe in the talents that God has given to your children, then you can help them to develop their talents. (CE)

Posted in Artikel, Bahasa Indonesia

Berbicara Mengenai Kematian kepada Anak-Anak/ Talking About Death to Children

Kematian merupakan suatu kondisi yang tidak dapat dihindarkan – dimana setiap kehidupan berujung pada kematian. Sebagai individu dewasa, terkadang kita masih mengalami kesulitan untuk memahami makna kematian dan bagaimana cara yang terbaik untuk membahas masalah kematian. Kesulitan ini semakin berlipat ganda ketika kita berhadapan dengan anak-anak. Bagaimana cara terbaik untuk berbicara mengenai kematian kepada anak-anak? Bagaimana cara kita sebagai individu dewasa memberikan penjelasan yang ‘masuk akal’ bagi anak-anak?

Peristiwa jatuhnya pesawat Air Asia QZ8501 jurusan Surabaya – Singapura pada akhir bulan Desember 2014 meninggalkan duka yang mendalam, bukan hanya bagi keluarga yang ditinggalkan, namun juga bagi seluruh masyarakat Indonesia. Salah satu sekolah swasta di Surabaya kehilangan dua siswanya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar dan seluruh warga sekolah merasakan kehilangan yang begitu besar. Para guru dan pengurus sekolah kemudian memutuskan untuk mengundang penulis dalam sebuah diskusi singkat mengenai bagaimana cara berbicara kepada para siswa terkait kematian dua rekannya.

Children Counseling 2015

Berikut adalah beberapa tips yang dapat digunakan ketika berbicara mengenai kematian kepada anak-anak:

  1. Penting untuk menekankan bahwa peristiwa meninggalnya teman/anggota keluarga bukanlah kesalahan mereka. Beberapa kasus yang penulis jumpai dalam setting praktik menunjukkan bahwa anak-anak seringkali menyalahkan diri mereka sendiri ketika berhadapan dengan kematian. Mereka merasa dirinya sebagai anak nakal, sehingga mengakibatkan meninggalnya teman/anggota keluarga mereka. Tak jarang mereka juga menyalahkan diri sendiri karena tidak mampu melakukan tindakan yang berguna untuk menyelamatkan orang yang meninggal.
  2. Mereka diijinkan untuk terus mengenang orang yang meninggal di dalam hati dan kehidupan mereka. Ijinkan anak-anak untuk terus mendoakan orang yang meninggal, berkumpul bersama teman atau anggota keluarga yang lain, mengunjungi pemakaman bersama-sama dan membicarakan kenangan indah yang mereka miliki, atau menyimpan benda kenangan tertentu (misal: foto, barang pemberian, dsb). Kesempatan yang diberikan kepada anak-anak memberikan pemahaman bahwa ‘kematian mengakhiri sebuah kehidupan, namun tidak mengakhiri sebuah relasi’ (Mitch Albom).
  3. Sampaikan fakta bahwa teman atau anggota keluarga mereka telah meninggal. Hindari memperlakukan anak seakan mereka tidak memahami bahwa orang dewasa di sekitar mereka sedang menyembunyikan sesuatu. Gunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh anak, serta sampaikan apa penyebab kematian (misal: sakit, kecelakaan, dsb).
  4. Apabila berhadapan dengan anak yang lebih muda, hindari mengkaitkan kematian dengan ‘kuasa Tuhan’ atau ‘kasih Tuhan’ karena akan menimbulkan pemahaman yang kurang tepat terkait konsep kematian dan ketuhanan. Mereka mungkin akan menganggap Tuhan sebagai sosok yang jahat, karena memisahkan mereka dengan orang yang mereka kasihi.
  5. Ijinkan anak untuk membicarakan perasaan yang mereka rasakan – kesedihan, kehilangan, kemarahan, dan berbagai perasaan lain yang muncul setelah peristiwa kematian tersebut. Apabila berdiskusi merupakan kondisi yang berat bagi anak untuk dilakukan, berikan media yang lain, seperti: menulis buku harian atau menggambar, sehingga mereka dapat mengekspresikan perasaan mereka secara apa adanya.

Children Counseling 2015

Semoga bermanfaat! (CE)


Death is inevitable – in which every live will find its end to death. As adults, we still have difficulties to understand the meaning of death and finding the best way to talk about it. These difficulties are doubling up when we have to deal with children. What is the best way to talk about death to children? How can we – as adults – give logical explanation for them? The incident of Air Asia QZ8501 from Surabaya to Singapore on the end of December 2014 left deep scar, not only for the family of the passengers, but for all Indonesian communities. One private school in Surabaya lost their two Primary School students and the whole school experience such a great loss. Teachers and school staff then decided to invite me in a short discussion on how to talk to their students regarding the incident on their two schoolmates. 

Following are some tips to discuss about death with children:

  1. It is important to address that the death of their friends/families are not their mistakes. In a few cases that I have witnessed, children tend to blame themselves when they are dealing with death issues. They view themselves as bad children, therefore it causes the death incident. Sometimes they also blame themselves because they could not do anything to save the dead.  
  2. Allow them to remember their dead friends/families in their heart and their life. Allow them to pray for those who had died, being together with friends or family members, visiting the grave together and talk over the good memories, or keeping their memories (e.g: photos, gifts, etc). This opportunity will teach our children that “death ends a life, not a relationship” (Mitch Albom).
  3. Share the fact that their friends or family members have passed away. Do not engage in any behaviors as if children do not comprehend that the adults around them are hiding something. Use simple sentences that are easy to understand, and tell them the cause of death (e.g: sickness, accident, etc). 
  4. When dealing with younger children, do not relate death with the power of God or God’s love, because it may cause wrong understanding regarding death and God. They may think of God as evil, because He separate them with their loved ones.
  5. Allow children to talk about their feelings – their sadness, loss, anger and other feelings that come up after the incident of death. If discussion or talking is too hard for them to handle, give other media, e.g: keeping a diary, or drawing – so they can express their feelings as much as they can. 

Hope it helps! (CE)